
Dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, SMK Negeri 1 Idi menggaungkan gerakan anti-perundungan melalui kegiatan edukasi bersama DP3AKB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana) Kabupaten Aceh Timur. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kesadaran peserta didik tentang pentingnya saling menghormati, menghargai perbedaan, serta membangun hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekolah.
Kegiatan tersebut menghadirkan Ibu Ayu Fajri, S.Psi., M.Sc., selaku Penyuluh Sosial Ahli Muda, sebagai narasumber. Melalui penyampaian materi yang berkaitan dengan pencegahan perundungan, peserta didik diharapkan mampu memahami berbagai bentuk perilaku perundungan, dampaknya bagi korban, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani kejadian tersebut.
Melalui kegiatan edukasi ini, peserta didik diajak untuk lebih peka terhadap perilaku yang berpotensi menyakiti orang lain. Mereka juga didorong untuk memahami bahwa candaan tidak selalu dapat diterima sebagai sesuatu yang menyenangkan, terutama apabila membuat orang lain merasa terhina, takut, atau tersisih.

Kehadiran DP3AKB Aceh Timur menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi mengenai perlindungan anak dan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang peserta didik. Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga ruang yang menumbuhkan karakter positif, kepedulian, empati, dan rasa aman bagi seluruh warga sekolah.
Kepala SMK Negeri 1 Idi, bapak Azwar Malik Rangkuti, S.Pd., menegaskan bahwa terciptanya sekolah yang aman dan nyaman merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, setiap peserta didik berhak mendapatkan perlindungan, merasa diterima, dan mengikuti pembelajaran tanpa rasa takut akibat tindakan perundungan.
“Kami ingin SMK Negeri 1 Idi menjadi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik. Tidak boleh ada siswa yang merasa takut, tertekan, atau kehilangan kepercayaan diri karena perlakuan teman-temannya. Karena itu, edukasi anti-perundungan sangat penting agar anak-anak memahami bahwa setiap orang berhak dihormati dan diperlakukan dengan baik,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta didik untuk membangun pertemanan yang sehat, menghindari perilaku yang merendahkan orang lain, serta berani mengambil sikap ketika melihat tindakan perundungan.
Upaya mewujudkan sekolah bebas perundungan membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah, mulai dari peserta didik, guru, tenaga kependidikan, hingga orang tua. Pencegahan tidak cukup hanya dilakukan melalui sosialisasi, tetapi juga perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, seperti menggunakan bahasa yang santun, menghargai perbedaan, tidak mengucilkan teman, serta memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan.
Peserta didik juga perlu memahami pentingnya menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Komentar yang menghina, penyebaran foto atau informasi tanpa izin untuk mempermalukan seseorang, serta pesan yang mengancam merupakan perilaku yang harus dihindari. Sikap bijak di ruang digital menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pergaulan yang sehat, baik di dalam maupun di luar sekolah.
SMK Negeri 1 Idi berharap kegiatan bersama DP3AKB Aceh Timur ini dapat meningkatkan kepedulian seluruh peserta didik terhadap bahaya perundungan sekaligus memperkuat komitmen sekolah dalam memberikan perlindungan dan menciptakan suasana belajar yang kondusif.
Melalui semangat “Stop Perundungan, Mulai dari Diri Sendiri”, seluruh warga SMK Negeri 1 Idi diajak untuk membangun budaya sekolah yang mengutamakan rasa hormat, kepedulian, persahabatan, dan keberanian untuk melindungi sesama.
Sebab, sekolah yang aman dan nyaman bukan hanya tentang terbebas dari kekerasan, melainkan juga tentang bagaimana setiap peserta didik merasa dihargai, diterima, dan memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh serta meraih masa depan.




